Galerikaligrafi.com - Kaligrafi Islam merupakan salah satu bentuk seni yang sangat dihargai dalam kebudayaan dunia. Dalam kaligrafi, tulisan bukan hanya sekadar media komunikasi, tetapi juga sebuah karya seni yang memadukan keindahan visual dan spiritualitas.
Salah satu tokoh besar dalam dunia kaligrafi Islam adalah Badawi Al Dirani, seorang kaligrafer legendaris yang karya-karyanya telah memukau banyak kalangan. Artikel ini akan membahas tentang Badawi Al Dirani, seorang kaligrafer asal Timur Tengah yang kontribusinya dalam seni kaligrafi patut untuk dikenang.
Biografi Badawi Al Dirani
M. Badawi al-Dirani (1312 – 1387 H / 1894 – 1967 M) adalah kaligrafer terkenal asal Suriah yang lahir di Damaskus pada tahun 1894. Nama "al-Dirani" berasal dari Daria, sebuah desa di Damaskus tempat keluarganya berasal. Sejak kecil, Badawi Al Dirani sudah terpapar dengan dunia al-Qur'an dan mulai tertarik dengan kaligrafi pada usia 12 tahun. Beliau memulai perjalanan panjangnya dalam dunia kaligrafi dengan belajar dari beberapa kaligrafer terkemuka, yang mengajarkannya berbagai teknik dan gaya penulisan yang sangat mempengaruhi gaya kaligrafinya di kemudian hari.Pendidikan dan Pengaruhnya dalam Kaligrafi
Badawi Al Dirani pertama kali belajar kaligrafi dari Musthafa Siba'i, seorang kaligrafer besar yang wafat pada tahun 1919. Siba'i merupakan murid dari Shahib Qalam, salah satu tokoh kaligrafi terkemuka pada masa itu. Dari Siba'i, Badawi mempelajari kaligrafi ta'liq (farisi), sebuah gaya yang kelak akan dikuasainya dengan sangat baik.Setelah itu, Badawi Al Dirani bertemu dengan Yusuf Agah (dikenal dengan Rasa), seorang kaligrafer yang diutus oleh Sultan Abdul Hamid II untuk memperbaiki kaligrafi di Masjid Bani Ummayyah yang baru saja dilanda kebakaran. Kepada Rasa, Badawi mempelajari berbagai gaya kaligrafi, seperti diwani, tsuluts, naskh, dan riqa'. Pengalaman belajar dengan Rasa semakin memperkaya wawasan Badawi tentang berbagai jenis gaya tulisan.
Karier dan Kontribusinya dalam Dunia Kaligrafi
Setelah belajar dari beberapa tokoh besar, Badawi Al Dirani bekerja selama 17 tahun di kantor kaligrafer Mamdoh Syarif yang juga mengajarinya Kufi dan Diwani Jali. Pada akhirnya, ia membuka kantor kaligrafi sendiri di Jalan al-Bous, distrik Sulaimaniyah, dekat Masjid Ummayyah di Damaskus.Dalam kaligrafi ta'liq, Badawi mengembangkan gaya yang sangat mirip dengan gaya Sahib Qalam yang banyak diapresiasi oleh para kaligrafer profesional. Gayanya yang khas dalam ta'liq membuatnya terkenal di kalangan kaligrafer, dan banyak yang meniru gaya penulisannya. Selain itu, Badawi juga sangat menguasai kaligrafi tsuluts yang ia pelajari dari Rasa dan Mamdouh Syarif, serta kaligrafi Jali yang terkenal rumit dan indah. Karya-karyanya dalam tsuluts Jali dapat ditemukan pada beberapa bangunan masjid yang menampilkan kualitas dan keindahannya yang luar biasa.
Mengajar dan Mewariskan Ilmu Kaligrafi
Badawi Al Dirani tidak hanya terkenal karena karyanya, tetapi juga karena peranannya sebagai seorang pengajar. Ia mengajarkan kaligrafi di sekolah-sekolah Damaskus dan melahirkan banyak kaligrafer besar, seperti Usman Toha (penulis mushaf hijau Madinah) dan Ahmad Mufti, yang turut melanjutkan tradisi kaligrafi Islam. Ia juga melakukan perjalanan untuk bertemu dengan kaligrafer-kaligrafer terkenal lainnya, seperti Hamid al-Amidi di Istanbul, Muhammad Ibrahim di Alexandria (Iskandariah), dan Husni Al-Baba di Kairo. Pada tahun 1965, ia kembali ke Istanbul untuk melihat lebih banyak proyek kaligrafi di sana.Karya dan Proyek Kaligrafi
Badawi Al Dirani memang dikenal akan kemahirannya dalam menulis berbagai gaya kaligrafi, tetapi ia juga sempat berniat untuk menulis sebuah mushaf Al-Qur'an. Ia bahkan berhasil memulai proyek tersebut dan menulis 30 halaman dari Surah Al-Baqarah. Namun, sayangnya, proyek besar ini tidak pernah selesai.Pengaruh dan Warisan Badawi Al Dirani
Badawi Al Dirani adalah salah satu kaligrafer terbesar pada abad ke-20 yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan kaligrafi Islam. Karyanya sangat dihargai karena kemampuan teknis yang luar biasa dan keindahan spiritual yang terkandung dalam setiap goresannya. Badawi berhasil menggabungkan berbagai tradisi kaligrafi klasik dan memperkenalkan gaya baru yang menginspirasi banyak kaligrafer di seluruh dunia, baik di Timur Tengah maupun di luar dunia Islam.Gaya-gaya yang ia kembangkan dalam kaligrafi ta'liq dan tsuluts menjadi referensi bagi banyak kaligrafer yang mengikuti jejaknya. Walaupun karya-karyanya tersebar di berbagai tempat, seperti masjid dan bangunan penting lainnya, warisan Badawi Al Dirani tetap hidup dalam ajaran dan karya-karya para muridnya.
Kesimpulan
Badawi Al Dirani adalah seorang kaligrafer legendaris yang memberikan kontribusi besar dalam dunia seni kaligrafi Islam. Dengan keahliannya dalam menggabungkan teknik klasik dan modern, serta perhatian terhadap aspek visual dan spiritual dalam setiap karyanya, ia telah meninggalkan warisan yang tidak hanya penting dalam sejarah seni Islam, tetapi juga dalam perkembangan seni kaligrafi dunia.Karyanya dalam kaligrafi ta'liq, tsuluts, dan Jali tetap menjadi contoh dan inspirasi hingga hari ini. Sebagai pengajar yang melahirkan banyak kaligrafer berbakat, Badawi Al Dirani turut menjaga kelestarian seni kaligrafi, menjadikannya lebih dari sekadar seni tulisan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi spiritual dan budaya yang akan terus hidup sepanjang zaman.
Posting Komentar